HOME
Home » motif batik » Batik Madura Diburu Wisatawan Jepang

Batik Madura Diburu Wisatawan Jepang

Posted at May 31st, 2014 | Categorised in motif batik

Batik madura dari desa Podhek Pamekasan termasuk salah satu kain batik yang diburu wisatawan mancanegara. Batik asal pamekasan yang dikenal dengan sebutan batik podhek merupakan varian yang paling diminati. Disamping karakter corak motif yang halus, batik jenis ini juga dibuat dengan detil yang sangat teliti.

Tidak jarang kolektor batik dari Belanda dan Jepang berburu batik madura hingga ke sentra pengrajin batik di desa-desa. Hal ini wajar karena batik podhek termasuk salah satu varian batik Jawa Hokokai. Motif ini merupakan perpaduan corak tumbuhan dan hewan dengan motif liris.

Batik Madura Halus desa Podhek

Batik Madura Halus dari desa Podhek Pamekasan

Dalam penampilannya, batik Hokokai menyerupai motif pagi sore, yakni membagi selembar kain menjadi dua bagian dengan motif yang berbeda antara bagian satu dengan lainnya. Batik madura podhek yang merupakan varian dari batik hokokai juga memiliki ciri yang menonjol yakni ornamen bunga sakura bermekaran dengan warna lembut nan cerah. Sering pula dihiasi dengan hewan kupu-kupu pada bagian tepi kain atau di bagian tengah.

Selembar kain batik podhek ukuran 2,5 x 1 meter dengan kualitas halus harganya bisa mencapai 1 hingga 7 juta rupiah. Proses pembuatan batik jenis ini bisa memakan waktu antara 2 hingga 4 bulan tergantung tingkat kerumitan dan proses pewarnaan. Penggunaan canting dengan ukuran lubang sangat kecil (0,1mm) menghasilkan guratan motif yang sangat halus. Ini membutuhkan ketelatenan dan keterampilan tersendiri bagi perajin. Tidak jarang ujung canting patah selama proses pembatikan karena ukurannya yang sangat kecil.

Secara historis, batik podhek memiliki kaitan dengan batik Jawa Hokokai. Menurut Iwan Tirta, dalam buku A Play of Light and Shades, nama batik hokokai diambil dari nama organisasi bentukan Jepang yang sangat berpengaruh saat itu. Konon, para pemilik usaha batik memperkenalkan batik Jawa Hokokai sebagai upaya menarik simpati penguasa baru yang mengaku sebagai saudara tua dari asia timur raya. Pada masa pendudukan Jepang, bahkan jauh sebelum itu, masyarakat madura sudah akrab dengan kegiatan membatik. Sebagaimana sejarah batik madura sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit.

Kain batik memang telah menjadi kebanggan kita sebagai bangsa. Pengakuan badan dunia UNESCO telah menguatkan eksistensi batik sebagai warisan budaya asli Indonesia. Tidak sulit untuk membuktikan hal itu karena dari Sabang sampai Merauke, dengan mudah dapat ditemukan pusat-pusat kerajinan batik. Demikian pula batik Madura, dari ujung barat kabupaten Bangkalan hingga ujung timur kabupaten Sumenep, kegiatan membatik sudah menjadi rutinitas sehari-hari perajin batik di pulau garam ini. Tampaknya, Madura juga layak menyandang sebutan sebagai pulau batik.